Harga Minyak

Meredanya Ketegangan AS–Iran dan Dampaknya pada Harga Minyak Dunia

Meredanya Ketegangan AS–Iran dan Dampaknya pada Harga Minyak Dunia
Meredanya Ketegangan AS–Iran dan Dampaknya pada Harga Minyak Dunia

JAKARTA - Perkembangan diplomasi internasional kembali memberi dampak langsung terhadap pasar energi global. 

Harga minyak dunia mengalami penurunan setelah muncul sinyal positif dari hubungan Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan untuk melanjutkan perundingan nuklir menjadi faktor yang menekan harga hingga sekitar 1 persen.

Pada perdagangan Rabu, 25 Februari 2026, harga minyak mentah tercatat melemah di pasar internasional. Pelaku pasar merespons pernyataan Iran yang menyatakan kesiapan mengambil langkah yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat. Sentimen tersebut memicu koreksi harga setelah sebelumnya pasar dibayangi kekhawatiran geopolitik.

Minyak mentah Brent ditutup pada level US$ 70,77 per barel, turun US$ 0,72 atau sekitar 1 persen dari posisi sebelumnya di kisaran US$ 71,49 per barel. 

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga melemah US$ 0,68 atau sekitar 1 persen dari sekitar US$ 66,31 menjadi US$ 65,63 per barel. Penurunan ini mencerminkan respons cepat pasar terhadap dinamika politik global.

Rencana Perundingan Nuklir di Jenewa

Iran yang merupakan produsen minyak terbesar ketiga di Organization of the Petroleum Exporting Countries dijadwalkan melanjutkan dialog dengan Amerika Serikat. Putaran ketiga perundingan nuklir akan digelar pada Kamis, 26 Februari 2026 di Jenewa. Informasi tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi.

Agenda perundingan ini dipandang sebagai momentum penting dalam meredakan ketegangan antara kedua negara. Pasar menilai peluang tercapainya kesepakatan dapat mengurangi risiko gangguan pasokan minyak global. Harapan itu mendorong aksi jual sehingga harga terkoreksi tipis.

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat tetap menunjukkan sikap tegas terhadap program nuklir Iran. Washington menginginkan Teheran menghentikan program nuklirnya sebagai bagian dari kesepakatan. Untuk memperkuat posisinya, AS telah mengirim kapal induk, kapal perang, dan jet tempur ke kawasan tersebut.

Sikap Iran dan Respons Pasar

Iran membantah tengah mengembangkan senjata nuklir sebagaimana dituduhkan. Wakil menteri luar negeri Iran menyatakan bahwa Teheran siap mencapai kesepakatan guna meredakan ketegangan antara kedua negara. Pernyataan ini menjadi salah satu pemicu perubahan sentimen di pasar energi.

Pernyataan kesiapan tersebut dipandang sebagai sinyal positif oleh pelaku pasar. Jika ketegangan mereda, potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah dapat ditekan. Kondisi ini berkontribusi terhadap penurunan harga minyak pada perdagangan hari itu.

Bank Swiss UBS memperkirakan harga minyak berpotensi turun secara moderat dalam beberapa pekan ke depan. Proyeksi tersebut berlaku selama tidak terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan. Dengan kata lain, stabilitas kawasan menjadi faktor kunci arah harga energi.

Langkah Antisipatif Amerika Serikat

Di tengah proses negosiasi, Departemen Luar Negeri AS mulai menarik staf pemerintah yang tidak penting beserta keluarga mereka dari Kedutaan Besar AS di Beirut. Langkah tersebut dilakukan sebagai tindakan pencegahan menghadapi potensi konflik dengan Iran. Keputusan ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda.

Penarikan staf menjadi sinyal kehati-hatian pemerintah Amerika Serikat. Walaupun dialog tetap berjalan, dinamika keamanan kawasan masih diperhitungkan. Pasar energi pun terus memantau setiap perkembangan situasi tersebut.

Ketegangan geopolitik memang menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi fluktuasi harga minyak dunia. Setiap indikasi eskalasi atau deeskalasi konflik akan langsung tercermin dalam pergerakan harga. Oleh karena itu, pelaku pasar cenderung bereaksi cepat terhadap perkembangan diplomasi.

Data Persediaan Minyak AS

Selain faktor geopolitik, data persediaan minyak mentah Amerika Serikat turut memengaruhi harga. Pada pekan yang berakhir 20 Februari 2026, stok minyak mentah AS meningkat sekitar 11,43 juta barel. Angka ini jauh melampaui perkiraan analis yang sebelumnya memproyeksikan kenaikan sekitar 1,5 juta barel.

Kenaikan persediaan tersebut memberi tekanan tambahan terhadap harga minyak. Peningkatan stok menandakan pasokan yang lebih longgar dibanding ekspektasi pasar. Di saat yang sama, stok bensin dan distilat justru tercatat mengalami penurunan pada periode yang sama.

Kombinasi antara optimisme diplomasi dan lonjakan stok minyak mentah memperkuat sentimen negatif di pasar. Harga minyak pun terkoreksi sekitar 1 persen pada penutupan perdagangan. Pergerakan ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap faktor geopolitik dan fundamental pasokan.

Secara keseluruhan, perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan utama pasar global. Selama dialog berlangsung tanpa eskalasi konflik, tekanan terhadap harga minyak berpotensi berlanjut secara moderat. 

Namun, dinamika kawasan Timur Tengah tetap menjadi variabel penting yang menentukan arah pergerakan harga selanjutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index