JAKARTA - Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong pengembangan tumpeng sebagai bagian dari kekayaan intelektual Indonesia.
Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan ekonomi kreatif daerah. Tumpeng tidak hanya hidangan tradisional, tetapi juga simbol budaya yang berpotensi dikomersialisasikan.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai kekhasan tumpeng bisa menjadi fondasi kuat. Fondasi ini digunakan untuk menjadikannya Intellectual Property (IP) gastronomi nasional. Langkah ini sejalan dengan misi Kemenekraf untuk mengangkat budaya lokal menjadi produk kreatif bernilai tinggi.
Pendekatan ini juga bertujuan memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Dengan IP gastronomi, peluang ekonomi bagi UMKM kuliner semakin terbuka. Selain itu, nilai budaya dan filosofi di balik tumpeng dapat lebih dikenal publik.
Dukungan Komunitas Indonesia Gastronomy Community
Indonesia Gastronomy Community (IGC) menjadi mitra penting dalam pengembangan gastronomi nasional. Komunitas ini fokus pada riset, kurasi, dan penguatan IP kuliner Nusantara. IGC juga mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) gastronomi di berbagai daerah.
Ketua umum IGC, Ria Musiawan, menegaskan kecintaan komunitasnya terhadap makanan, minuman, budaya, dan filosofi gastronomi. Ia berharap tumpeng semakin dikenal sebagai simbol persatuan dan identitas budaya.
“Kami ingin tumpeng semakin dikenal dan dipahami maknanya sebagai simbol persatuan. Kami berharap hari ini menjadi awal yang baik untuk membangun kolaborasi yang lebih konkret,” ujarnya.
Komunitas ini juga berperan memperkenalkan konsep gastronomi yang berkelanjutan. Upaya mereka mendorong inovasi kuliner berbasis riset dan pengalaman. Hal ini membuat gastronomi Indonesia semakin kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.
Inisiatif Pengembangan UMKM dan Gastronomy Hub
Dalam pertemuan dengan Kemenekraf, IGC mengusulkan berbagai inisiatif strategis. Upaya ini mencakup pengembangan UMKM kuliner dan Gastronomy Creative Hub. Selain itu, mereka juga mengusulkan model pameran berbasis pengalaman untuk mengenalkan kuliner Nusantara.
Integrasi gastronomi dalam promosi ekonomi kreatif menjadi fokus utama. IGC menekankan pengembangan model gastronomi berbasis dampak sosial melalui edukasi pangan lokal. Tujuannya meningkatkan keterlibatan masyarakat dan memperkuat nilai budaya di setiap produk kuliner.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem gastronomi yang berkelanjutan. Pengetahuan, praktik budaya, dan kreativitas kuliner menjadi satu kesatuan. Dengan begitu, ekonomi kreatif berbasis gastronomi mendapat dorongan signifikan.
Penguatan Kurasi dan Penceritaan Produk Kuliner
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kemenekraf, Yuke Sri Rahayu, menekankan pentingnya kurasi dan storytelling. Kurasi yang baik membantu produk kuliner Indonesia lebih dikenal dan diminati. Sementara penceritaan yang menarik meningkatkan daya saing produk di pasar nasional maupun internasional.
Menurut Yuke, tradisi pertumpengan memiliki potensi nilai tambah besar. “Tradisi pertumpengan dapat menjadi pilot project yang menunjukkan bahwa kekayaan budaya kita memiliki potensi nilai tambah yang besar untuk komersialisasi IP gastronomi nasional,” jelasnya. Setiap aspek budaya di balik tumpeng dapat dikembangkan menjadi pengalaman kuliner unik.
Dengan kurasi dan penceritaan yang tepat, UMKM dapat memperoleh manfaat maksimal. Produk kuliner tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga sarana promosi budaya. Hal ini membantu memperkuat identitas kuliner Indonesia di mata masyarakat dan wisatawan.
Manfaat Kolaborasi Kemenekraf dan IGC
Kolaborasi antara Kemenekraf dan IGC membuka peluang besar untuk pengembangan gastronomi nasional. Dukungan pemerintah memperkuat legitimasi dan kapasitas komunitas. Sementara IGC membawa inovasi, riset, dan pengalaman lapangan.
Kerja sama ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. UMKM kuliner dapat berkembang lebih pesat dan berdaya saing tinggi. Produk tradisional seperti tumpeng bisa menjadi ikon budaya sekaligus sumber pendapatan.
Selain itu, kolaborasi ini mendorong pemahaman masyarakat terhadap nilai budaya kuliner. Edukasi dan promosi yang tepat membuat generasi muda lebih menghargai tradisi. Tumpeng bukan sekadar makanan, tetapi simbol persatuan dan kreativitas gastronomi Indonesia.
Dengan berbagai upaya ini, tumpeng diharapkan menjadi kekayaan intelektual yang diakui secara nasional. Produk kuliner tradisional mendapat kesempatan dikomersialisasikan secara profesional. Kemenekraf dan IGC bersama-sama memastikan gastronomi Indonesia terus berkembang dan memberi manfaat luas bagi bangsa.