Peran Rumah Tangga Jadi Kunci Transisi Energi Aceh

Senin, 23 Februari 2026 | 09:06:14 WIB
Peran Rumah Tangga Jadi Kunci Transisi Energi Aceh

JAKARTA - Peralihan menuju energi bersih di Aceh bukan sekadar wacana kebijakan, tetapi juga tantangan keseharian yang menyentuh langsung dapur, ruang keluarga, hingga kebiasaan warga dalam menggunakan listrik. 

Tekanan krisis iklim global mendorong setiap daerah untuk ikut ambil bagian menurunkan emisi karbon. 

Di Aceh, langkah itu dinilai bisa dimulai dari skala paling dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni rumah tangga. Pola konsumsi energi di tingkat keluarga menjadi kunci karena sektor ini tercatat sebagai pengguna listrik terbesar di provinsi tersebut. 

Dengan mengubah kebiasaan, memilih perangkat hemat energi, dan memanfaatkan potensi energi terbarukan yang tersedia, kontribusi kecil dari rumah dapat berdampak besar pada upaya menekan emisi karbon.

Analis Program Energi Baru Terbarukan, Mahasinul Fathani, ST menilai transisi dari energi fosil ke energi terbarukan menjadi keniscayaan seiring tren global yang menuntut negara-negara mengurangi ketergantungan pada sumber energi beremisi tinggi. Menurutnya, energi fosil menghasilkan emisi karbon lebih besar dibandingkan energi terbarukan. 

“Energi terbarukan memiliki emisi karbon lebih rendah sehingga lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

 Pernyataan ini menegaskan bahwa peralihan sumber energi bukan hanya soal pasokan listrik, tetapi juga upaya nyata merespons perubahan iklim yang dampaknya makin dirasakan di berbagai wilayah, termasuk Aceh.

Potensi Energi Terbarukan Aceh

Aceh memiliki peluang besar untuk mengembangkan energi terbarukan. Mahasinul menjelaskan, potensi energi air dan panas bumi di provinsi ini mencapai ribuan megawatt yang tersebar di berbagai wilayah. Sumber daya tersebut, jika dikelola dengan tepat, dapat menjadi tulang punggung pasokan energi bersih di masa depan. 

Selain energi air dan panas bumi, energi surya serta bioenergi juga berpotensi dikembangkan. Namun, pemanfaatan energi surya masih menghadapi kendala biaya awal yang relatif tinggi serta ketergantungan impor panel surya.

Kendala tersebut menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya berbicara soal ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga kesiapan teknologi dan dukungan kebijakan. 

Di sisi lain, peluang pengembangan energi terbarukan di Aceh membuka ruang partisipasi masyarakat. Rumah tangga dapat menjadi pintu masuk pemanfaatan energi bersih, baik melalui pemasangan panel surya atap maupun melalui kebiasaan menghemat listrik. Dengan memaksimalkan potensi lokal, Aceh memiliki kesempatan memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan emisi karbon.

Rumah Tangga Sebagai Pengguna Energi Terbesar

Data konsumsi listrik menunjukkan sekitar 90 persen pemakaian listrik di Aceh berasal dari pelanggan rumah tangga. Angka ini menempatkan keluarga sebagai aktor utama dalam upaya konservasi energi. Mahasinul menekankan bahwa sebelum memasang pembangkit surya atap, langkah paling mendasar adalah menekan konsumsi listrik. 

“Mengurangi konsumsi listrik berarti mengurangi pembakaran batu bara dan minyak,” katanya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa efisiensi energi merupakan fondasi transisi energi.

Kebiasaan sederhana seperti mematikan peralatan listrik saat tidak digunakan, mengatur penggunaan AC secara bijak, hingga memanfaatkan pencahayaan alami pada siang hari dapat memberikan dampak signifikan. 

Perubahan perilaku di tingkat rumah tangga, jika dilakukan secara masif, berpotensi menurunkan beban pembangkit berbasis fosil. 

Dengan demikian, kontribusi rumah tangga bukan sekadar simbolis, melainkan menjadi komponen penting dalam rantai transisi energi di Aceh.

Langkah Praktis Konservasi Energi Rumah Tangga

Mahasinul menyarankan masyarakat mulai memilih peralatan listrik yang hemat energi. Penggunaan AC inverter dan lampu LED dinilai mampu menekan tagihan listrik bulanan sekaligus mengurangi konsumsi energi. 

Selain mengganti perangkat, perawatan rutin juga penting dilakukan. Pembersihan AC setiap tiga hingga empat bulan, misalnya, dapat menjaga efisiensi kerja dan memperpanjang umur pakai peralatan. Langkah-langkah ini tidak hanya berdampak pada penghematan biaya, tetapi juga membantu menekan emisi karbon secara tidak langsung.

Konservasi energi di rumah tangga juga berkaitan dengan kesadaran kolektif. Ketika keluarga mulai memahami hubungan antara konsumsi listrik dan emisi karbon, kebiasaan hemat energi akan lebih mudah diterapkan. 

Upaya kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk budaya baru dalam penggunaan energi. Budaya ini pada akhirnya mendukung target bauran energi bersih nasional yang menuntut partisipasi seluruh lapisan masyarakat.

Peluang Generasi Muda Dalam Energi Bersih

Mahasinul menambahkan, transisi energi membuka peluang karier bagi generasi muda di sektor energi terbarukan. Pengembangan potensi energi air, panas bumi, surya, dan bioenergi membutuhkan tenaga teknis serta inovator lokal. Keterlibatan generasi muda penting untuk memastikan keberlanjutan program energi bersih di Aceh. 

Selain berperan sebagai tenaga profesional, generasi muda juga dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga dan komunitasnya.

Harapannya, masyarakat mulai berkontribusi dari kebiasaan sederhana di rumah. Langkah kecil itu dinilai mampu mendukung target bauran energi bersih nasional. Ketika rumah tangga menjadi titik awal perubahan, transisi energi di Aceh tidak lagi sebatas agenda pemerintah, melainkan gerakan bersama yang tumbuh dari kesadaran warga.

Terkini