IKN Hadirkan Konsep Kota Hutan untuk Melindungi Satwa Liar di Nusantara

Jumat, 20 Februari 2026 | 13:47:30 WIB
IKN Hadirkan Konsep Kota Hutan untuk Melindungi Satwa Liar di Nusantara

JAKARTA - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memberikan perhatian khusus terhadap lingkungan. 

Upaya ini mencakup perlindungan satwa liar dan pemulihan hutan endemik. Pendekatan pembangunan berkelanjutan menjadi langkah penting agar IKN tetap ramah ekosistem.

Perlindungan Satwa Liar dalam Pembangunan IKN

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Keamanan dan Keselamatan Publik, Edgar Diponegoro, menegaskan bahwa IKN tetap memberi ruang bagi satwa liar. “IKN tetap memberikan ruang bagi perlindungan satwa liar,” ujarnya. Salah satu contohnya adalah pembangunan jembatan koridor satwa di atas jalan tol yang memungkinkan satwa bergerak bebas tanpa terganggu.

Jembatan koridor ini menjadi bukti konkret model pembangunan yang mengedepankan keselamatan satwa. “Koridor satwa dibangun untuk menjamin keselamatan satwa liar yang melintas dan berhabitat di kawasan itu,” tambah Edgar. Pendekatan ini memastikan keseimbangan antara pembangunan kota dan konservasi satwa endemik.

Kota Hutan dan Kebijakan Lingkungan IKN

Otorita IKN berkomitmen menjadikan ibu kota baru sebagai kota hutan yang ramah lingkungan. Kebijakan pembangunan menetapkan hanya 25 persen kawasan yang boleh dibangun, sementara sekitar 65 persen tetap berupa hutan. Upaya ini selaras dengan amanat undang-undang untuk menjaga ekosistem dan keberlanjutan alam di wilayah IKN.

Kebijakan tersebut juga mendukung terciptanya iklim mikro yang stabil. Hutan yang dipulihkan menampung berbagai jenis flora dan fauna lokal. Dengan demikian, pembangunan IKN tidak hanya mengutamakan kota modern tetapi juga kelestarian alam.

Pemulihan Hutan Endemik Kalimantan

Direktur Pengembangan Pemanfaatan Kehutanan dan Sumber Daya Air Otorita IKN, Onesimus Patiung, menjelaskan upaya membangun kembali hutan endemik Kalimantan. 

“Membangun kembali hutan endemik Kalimantan dengan jenis tumbuhan dan hewan lokal, agar terbentuk iklim mikro,” katanya. Tantangan terbesar adalah mengembalikan hutan tropis ke kondisi asli karena banyak plasma nutfah yang hilang akibat aktivitas manusia sebelumnya.

Pembangunan pusat plasma nutfah dan museum sedang dilakukan di Persemaian Mentawir, Kecamatan Sepaku. Fasilitas ini bertujuan mendokumentasikan kekayaan hayati yang masih tersisa. Langkah ini menjadi rujukan untuk konservasi jangka panjang dan pendidikan lingkungan bagi masyarakat.

Keunikan Ekosistem dan Hutan Tropis Kalimantan

Kalimantan memiliki hutan tropis dengan ekosistem yang khas dan beragam. Tumbuhan endemik menyusun hutan yang berbeda dari tempat lain, termasuk hutan kerangas di pesisir dan tanah berpasir yang miskin unsur hara. Keanekaragaman ini menjadikan Kalimantan sebagai salah satu wilayah yang harus dijaga kelestariannya.

Hutan tropis yang pulih akan mendukung stabilitas iklim dan habitat satwa liar. Perlindungan ini juga memungkinkan satwa endemik tetap berkembang biak secara alami. Dengan strategi pembangunan berkelanjutan, IKN menjadi model kota modern yang harmonis dengan alam.

Manfaat Lingkungan dan Edukasi Masyarakat

Pembangunan koridor satwa dan hutan endemik tidak hanya melindungi alam tetapi juga menjadi sarana edukasi. Masyarakat dapat belajar mengenai pentingnya pelestarian satwa dan hutan tropis. “Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan kota bisa sejalan dengan konservasi lingkungan,” ujar Edgar.

Upaya ini mendukung terciptanya kesadaran lingkungan yang lebih luas. Pusat dokumentasi plasma nutfah dan museum menjadi media pembelajaran bagi generasi muda. Dengan demikian, IKN bukan hanya kota administrasi, tetapi juga pusat edukasi lingkungan dan konservasi satwa liar.

Terkini