Industri Padat Karya Didorong Naik Kelas Demi Tingkatkan Produktivitas Nasional

Kamis, 19 Februari 2026 | 10:11:24 WIB
Industri Padat Karya Didorong Naik Kelas Demi Tingkatkan Produktivitas Nasional

JAKARTA - Dorongan untuk mempercepat transformasi industri padat karya kembali menguat seiring sorotan terhadap kinerja produktivitas manufaktur Indonesia. 

Bank Dunia menilai sektor ini masih menghasilkan nilai tambah yang relatif rendah, khususnya jika diukur dari kontribusinya terhadap tenaga kerja. Evaluasi tersebut memantik diskusi mengenai arah kebijakan industrialisasi ke depan.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty menjelaskan bahwa secara agregat pertumbuhan manufaktur nasional menunjukkan perbaikan. 

"Dilihat dari share itu meningkat di 19%, growth di atas 5%, dari data BPS ini sebenarnya produktivitas naik. Namun, World Bank menyoroti produktivitas SDM, artinya produksi per kapita," kata Telisa. Pernyataan itu menegaskan adanya perbedaan antara pertumbuhan sektoral dan kualitas produktivitas tenaga kerja.

Jika ditinjau dari produksi per kapita, industri Indonesia memang masih tertinggal dibandingkan Thailand, Malaysia, maupun India. Ketertinggalan tersebut menjadi indikator bahwa peningkatan output belum sepenuhnya diikuti efisiensi tenaga kerja. Kondisi ini memperlihatkan perlunya pembenahan yang lebih terarah.

Investasi dan Tantangan Transfer Teknologi

Telisa menilai arus investasi yang masuk ke Indonesia selama ini didominasi industri padat modal. Karakter investasi tersebut dinilai belum sepenuhnya mendorong peningkatan kapasitas tenaga kerja domestik. Selain itu, transfer teknologi dari investasi tersebut masih tergolong terbatas.

Minimnya alih teknologi membuat peningkatan produktivitas berjalan tidak optimal. Industri memang bertumbuh, tetapi efek penggandanya terhadap kualitas sumber daya manusia belum maksimal. Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar dalam strategi industrialisasi nasional.

Menurut Telisa, langkah konkret dan terukur perlu segera dilakukan untuk memperbaiki situasi tersebut. Produktivitas menjadi fondasi utama agar Indonesia mampu memperkuat daya saing di tengah kompetisi global yang semakin ketat. Tanpa perbaikan produktivitas, pertumbuhan sulit berkelanjutan.

Data Produktivitas dan Kesenjangan Regional

Berdasarkan data Asian Productivity Organization (APO), produktivitas tenaga kerja Indonesia menunjukkan tren perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, produktivitas tercatat sekitar US$28,6 per tenaga kerja, meningkat dibandingkan 2018 yang berada di kisaran US$23,9. Meskipun demikian, angka itu masih berada di bawah rata-rata ASEAN sekitar US$30,2.

Dari sisi indeks produktivitas dengan basis 2010=1,0, Indonesia memang mengalami kenaikan konsisten hingga 2022. Namun laju kenaikannya belum secepat China, Vietnam, dan Bangladesh dalam periode yang sama. Perbandingan ini menegaskan adanya kesenjangan akselerasi.

“Artinya, kita perlu mendorong transformasi agar sektor padat karya bisa naik kelas dan menghasilkan nilai tambah yang lebih besar," terangnya. Transformasi tersebut dipandang sebagai jalan untuk mempercepat konvergensi produktivitas dengan negara pembanding. Tanpa lompatan struktural, selisih kinerja akan terus melebar.

Pendekatan 4P untuk Transformasi Industri

Sebagai solusi, Telisa mendorong pendekatan 4P yang mencakup people, process, product, dan policy. Pada aspek people, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas melalui pelatihan berbasis kompetensi. Penyiapan spesialis produktivitas juga dinilai penting untuk mendukung implementasi di lapangan.

Di sisi process dan product, diperlukan evaluasi serta intervensi langsung di perusahaan, terutama skala menengah. Pembenahan proses produksi akan berdampak pada efisiensi dan kualitas hasil akhir. Dengan demikian, produk nasional dapat bersaing di pasar global.

Pada aspek policy, penguatan ekosistem produktivitas menjadi elemen krusial. Pembentukan lembaga produktivitas nasional, pemberian penghargaan produktivitas, serta penguatan jejaring internasional melalui APO termasuk langkah strategis. 

Kebijakan berbasis data melalui dashboard produktivitas dan analisis pasar tenaga kerja juga menjadi dasar pengambilan keputusan.

Telisa optimistis bahwa langkah kolaboratif dan terarah dapat mempercepat peningkatan produktivitas. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan akan memperkuat implementasi kebijakan. Dengan strategi tepat, Indonesia diyakini mampu mengejar ketertinggalan dari negara benchmark di Asia.

Selektivitas Insentif dan Hilirisasi Riset

Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Ariyo DP Irhamna menambahkan pentingnya selektivitas dalam pemberian insentif investasi.

Pemerintah dinilai perlu merestrukturisasi tax holiday agar mensyaratkan kandungan lokal, transfer teknologi, dan integrasi pemasok domestik. Insentif seharusnya tidak hanya mendorong pendirian pabrik perakitan.

"Kemudian, penguatan SDM dan infrastruktur. Reformasi vokasional yang selaras kebutuhan industri padat teknologi dan perbaikan logistik untuk menekan biaya produksi," tuturnya. Reformasi tersebut akan memperkuat fondasi industri dalam jangka panjang. Infrastruktur dan kompetensi tenaga kerja menjadi kunci efisiensi.

Integrasi ke rantai nilai global juga perlu diperluas dengan mendorong perusahaan domestik masuk jaringan pasokan multinasional. Standar kualitas, sertifikasi, serta fasilitasi ekspor harus diperkuat agar pelaku usaha mampu bersaing. Upaya ini akan membuka akses pasar sekaligus meningkatkan reputasi industri nasional.

Ariyo menilai komersialisasi riset dan inovasi dalam negeri masih menjadi celah besar. Banyak hasil riset dari BRIN dan universitas berhenti pada tahap prototipe atau paten tanpa masuk ke tahap produksi massal. Kesenjangan antara laboratorium dan pasar menjadi hambatan utama.

Ia menyebut penguatan technology licensing office di lembaga riset dan perguruan tinggi dengan mandat komersial nyata sebagai langkah penting. Skema matching grant pemerintah dan industri untuk membiayai tahap pilot juga diperlukan. 

Reformasi regulasi hak kekayaan intelektual agar proses paten lebih cepat dan murah serta insentif pajak bagi pembeli lisensi teknologi domestik akan mempercepat hilirisasi.

"Tanpa jembatan antara laboratorium dan pasar, investasi riset tidak akan pernah menjelma menjadi produktivitas industri," pungkasnya. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya konektivitas antara inovasi dan dunia usaha. Transformasi produktivitas hanya akan tercapai jika riset mampu diterjemahkan menjadi nilai ekonomi nyata.

Terkini